Kamis, 09 Februari 2012

PENILAIAN MATA PELAJARAN IPS UNIT 9

Penilaian Mata Pelajaran IPS

Pendahuluan

Para mahasiswa sekalian, tentu Anda masih ingat bahan ajar pada Unit 9

utama yakni tentang Penilaian Mata Pelajaran IPS.Pada unit pengayaan ini, Anda

akan diajak mengkaji dan memperdalam penguasaan kemampuan penilaian

pembelajaran IPS, terutama pada dimensi afektif, yakni aspek nilai dan sikap

(values and attitudes). Mengapa perlu pengayaan dalam kemampuan menilai

aspek afektif? Disadari bahwa mengukur kemampuan siswa di SD/MI saat ini

memiliki keterbatasan. Artinya, guru belum mengukur semua kemampuan dan

potensi yang dimiliki peserta didik SD/MI. Pada umumnya sekolah hanya

mencurahkan perhatian dalam penilaiannya pada dimensi kognitif daripada

dimensi afektif. Banyak alasan, mengapa para guru lebih banyak menilai

kemampuan peserta didik dalam pembelajaran IPS. Namun, pada umumnya guru

beranggapan bahwa menilai aspek afektif tidak mudah atau sulit. Karena sulit

inilah maka guru tidak melaksanakan penilaian dalam aspek afektif.

Meskipun demikian, sesuatu yang sulit tidak berarti tidak dapat dilakukan.

Ada strategi dan teknik penilaian yang khusus untuk menilai domain afektif.

Oleh karena itu, dalam unit pengayaan ini pembahasan akan difokuskan pada

penilaian untuk dimensi afektif yang dinamakan penilaian non tes.

UNIT 9

Kompetensi yang diharapkan setelah Anda mempelajari materi ini, sbb.:

1. Mampu mengembangkan jenis penilaian non tes dalam pembelajaran IPS di

sekolah dasar sesuai dengan standar isi yang didukung oleh materi

kontekstual.

2. Mampu mengembangkan alat penilaian non tes untuk pembelajaran IPS

yang sesuai dengan tingkat perkembangan usia peserta didik.

Uraian Materi

Penilaian Pembelajaran IPSNon Tes

Anda tentu telah membaca Unit 9 utama bahwa jenis penilaian ada dua,

yakni penilaian tes dan non tes.Penilaian untuk domain afektif dapat

dikelompokkan sebagai jenis penilaian non tes.Karena non tes, maka teknik

penilaian pun menjadi khas karena bukan tes. Dengan alasan-alasan seperti

tersebut di atas inilah, maka dalam Unit Pengayaan ini pembahasan akan

menekankan pada aspek afektif atau penilaian non tes.

Mengapa non tes?

Disadari bahwa aspek nilai dan sikap merupakan aspek yang tersembunyi,

artinya nilai tidak dapat dilihat secara kasat mata karena terkait dengan keyakinan,

perasaan, dan emosi yang semuanya sangat bersifat pribadi/personal atau

individual. Hal-hal inilah yang umumnya menjadi alasan mengapa menilai

domain afektif itu tidak mudah atau dipandang sulit sehingga guru tidak

melaksanakan penilaian secara optimal. Padahal, secara teoritis pembelajaran IPS

mencakup empat dimensi, yakni dimensi pengetahuan (knowledge), dimensi

keterampilan (skills), dimensi nilai dan sikap (values and attitude), dan dimensi

tindakan (action). Diantara empat dimensi tersebut, yang kurang banyak

tersentuh dalam penilaian adalah dimensi nilai dan sikap serta tindakan. Oleh

karena itu, dalam unit pengayaan ini, penilaian akan memfokuskan pada penilaian

non tes sebagai dimensi afektif.

Non tes merupakan salah satu bentuk penilaian dalam mengambil keputusan

terhadap hasil proses pembelajaran untuk kompetensi yang bersifat afektif atau

kompetensi yang tidak dapat diukur secara kuantitatif. Apabila penilaian dengan

tes selalu dapat dinyatakan dengan angka/skala maka penilaian dengan teknik

non-tes, umumnya menghasilkan deskripsi secara kualitatif meskipun untuk

kompetensi tertentu ada yang berupa angka/skala. Sebagai instrumen yang dapat

Sub Unit 9.1

mengggali data non-kognitif, teknik dan alat penilaian non-tes sangat diperlukan

untuk melengkapi hasil penilaian tengtang perkembangan hasil belajar peserta

didik secara keseluruhan.

Kemampuan guru dalam menilai menggunakan teknik non-tes dalam unit

pengayaan ini sebagai kemampuan penyempurnaan bagi guru agar penilaian

terhadap peserta didik lebih lengkap dan adil. Artinya, penilaian oleh guru

terhadap peserta didik dilakukan secara komprehensif mencakup atas semua

kompetensi yang dimiliki oleh peserta didik. Oleh karena itu, kemampuan guru

dalam penilaian menggunakan teknik-non-tes harus dikuasai, di samping

kemampuan dalam teknik tes yang telah dikuasainya. Cleaf (1991)

mengidentifikasi teknik penilaian non-tes dalam pembelajaran IPS atau penilaian

domain afektif antara lain meliputi : (1) Survey sikap (Attitudinal surveys); (2)

Penyempurnaan kalimat (Stem sentences); (3) Ceklis pengamatan (Observation

checklists); (4) Kegiatan (Projects);(5) Portofolio; (6) Jurnal/Diari. Selain itu, ada

juga beberapa teknik non tes seperti wawancara, daftar ceklis, skala pilihan,

catatan pribadi, dan studi kasus.Penjelasan untuk beberapa teknik penilaian non

tes diuraikan berikut ini.

A. Survey Sikap

Survey sikap berbeda dari instrumen tes karena skala tidak dimaksudkan

untuk menjawab yang benar atau salah melainkan berisi jawaban yang terkait

dengan keyakinan, perasaan, persetujuan, dan sebagainya yang terkait dengan

kecenderungan untuk betindak (attitudes). Skala sikap terdiri dari sejumlah

jawaban tentang persetujuan atau tidak ada persetujuan seperti: Sangat setuju,

setuju, tidak memutuskan, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Dengan

menganalisis pola jawaban dari responden (peserta didik), maka

memungkinkan dapat disimpulkan sikap atau keyakinan peserta didik terhadap

pertanyaan/pernyataan.

B. Penyempurnaan kalimat

Penyempurnaan kalimat dapat digunakan untuk menilai sikap siswa.

Anda dapat menanyakan kepada peserta didik baik secara verbal atau tulisan,

dengan mengajukan pertanyaan seperti:

· Mata pelajaran favorit saya adalah .....

· Saya akan mengubah tindakan dengan cara .......

· Saya merasa aneh ketika belajar .....

· Saya tidak menganggap kota sebagai ......

· Pandangan saya berubah setelah saya mengenal orang tersebut .....

Penyempurnaan kalimat seperti di atas berguna sehingga dapat

disesuaikan dengan jenis sikap/nilai yang akan dinilai.

C. Ceklis Observasi

Teknik penilaian ini baik bertujuan untuk menilai proses dan hasil belajar

aspek perilaku, seperti perilaku dalam diskusi, praktek keterampilan, bermain

peran, sosiodrama, dan lain-lain. Aspek yang dinilai dalam diskusi antara lain

perilaku aktif dalam bertanya, berkomentar, berpendapat, pertanyaan, bekerja

sama, perilaku kepemimpinan, dan sebagainya. Ada beberapa kriteria

observasiagar lebih efektif, seperti:

1) Observasi hendaknya dilakukan dengan tujuan yang jelas dan terencana.

2) Ada pedoman observasi baik berlembar catatan terbuka.

3) Pencatatan dilakukan oleh guru sesegera mungkin tanpa sepengetahuan

peserta didik.

4) Segera dibuat simpulan setelah program observasi selesai dilaksanakan

seluruhnya.

D. Kegiatan (project)

Pembelajaran IPS di SD/MI hendaknya banyak melibatkan siswa secara

aktif melalui berbagai kegiatan. Peserta didik dapat membuat diorama tentang

peristiwa sejarah perjuangan bangsa , menyusun kelompok barang yang

termasuk kebutuhan dan keinginan, membuat flowchart diagram proses

produksi dari mulai bahan baku sampai bahan jadi, membuat klipping, dan

sebagainya. Penilaian terhadap kegiatan dilakukan selama proses kegiatan

berlangsung. Sedikitnya ada dua tahap: pertama, penilaian formatif, yakni

tahap monitoring para siswa bekerja, yakni mendengarkan komentar,

menanyakan tentang kegiatan tersebut, menanyakan alasan dibalik

pengambilan keputusan; dan kedua, penilaian sumatif, yakni menilai hasil

kegiatan.

E. Portofolio

Portofolio merupakan kumpulan hasil kerja siswa yang terbaik.

Portofolio sebagai salah satu penilaian dimaksudkan penilaian terhadap hasil

karya siswa. Kumpulan pekerjaan siswa biasanya berupa sampel termasuk

foto-foto kegiatan, komentar-komentar secara tertulis termasuk perasan, sikap

terhadap topik kegiatan, dan keinginan siswa yang perlu diketahui guru yang

selanjutnya dimasukkan kedalam folder. Portofolio merupakan alat yang sangat

baik sebagai bahan bagi guru ketika bertemu dengan orang tua siswa. Guru

dapat menjelaskan secara kronologis tentang aktivitas siuswa dan hasilnya.

Jadi penilaian portofolio merupakan suatu pendekatan dalam penilaian kinerja

peserta didik atau digunakan untuk menilai kinerja.

F. Jurnal/Diari

Ketika para siswa partisipasi dalam suatu kegiatan kelas tentang materi

pelajaran tertentu, mereka dapat diminta untuk mencatat aktivitas tersebut

dalam jurnal/diari. Mereka diminta untuk mencatat setiap hasil belajar yang

penting, termasuk yang disenangi dan tidak disenangi. Manulis jurnal dapat

melatih siswa dalam kemampuan menulis yang terintegrasi dengan mata

pelajaran IPS.

G. Wawancara

Pedoman wawancara disusun seperti daftar pertanyaan yang akan

diajukan saat wawancara. Respondennya adalah peserta didik. Ada sedikit

perbedaan antara pedoman wawancara dengan pertanyaan saat ujian lisan.

Pedoman wawancara tidak menghendaki jawaban yang benar atau salah seperti

dalam ujian lisan yang menentukan lulus atau tidak lulus, melainkan hanya

mengungkapkan informasi tentang sikap yang digali yang dapat

menggambarkan keadaan peserta didik saat itu.

H. Daftar Ceklis

Daftar ceklis merupakan alat penilaian yang biasa digunakan saat

observasi, wawancara, maupun dalam skala sikap. Daftar ceklis terdiri atas

daftar aktivitas, sifat pribadi, masalah yang muncul, sikap terhadap kejadian

yang dilematis, jenis kesukaan, kebiasaan, dan lain-lain.Dalam daftar ceklis

biasanya disediakan kolom ceklis (....) pada bagian awal pernyataan yang

harus diisi oleh peserta didik atau oleh guru, tergantung tujuannya.

Daftar ceklis berguna untuk menyatakan ada atau tidak adanya suatu

unsuratau komponen serta karakteristik atau kejadian. Daftar ceklis dapat

dimanfaatkan pula untuk menentukan proses dan hasil belajar secara lebih

rinci. Penggunaannya sangat fleksibel untuk mencek kemampuan semua

peserta didik baik dalam prosesmaupun hasil pembelajaranIPS.

I. Skala-pilihan

Skala-pilihan (rating scales) sifatnya hampir sama dengan daftar cek.

Bedanya, pada daftar cek hanya ada 2 alternatif (ya atau tidak) yang diisi

dengan memberi tanda atau mengosongkan. Dalam skala disediakan 3, 4, atau

5 pilihan. Skala-pilihan dapat digunakan untuk: observasi, wawancara, angket,

juga untuk mengukur sikap, kebiasaan, ataupun minat.

J. Studi Kasus

Studi kasus merupakan penilaian non tes yang berisi deskripsi perilaku

yang kadang-kadang diperlukan untuk mempelajari peserta didik yang

bertingkah laku ekstrim.Misalnya peserta didik yang agresif atau perilaku luar

biasa, yang berbeda dari peserta didik pada umumnya.Di sekolah dasar, studi

kasus dilakukan terhadap peserta didik yang bertingkah laku ekstrim,

mengganggu, atau perlu bantuan khusus.

Latihan:

Panduan jawaban latihan:

Guru perlu mempertimbangan kemampuan/kompetensi yang akan dicapai,

tercermin dalam proses pembelajaran, sehingga dapat dirumuskan kompetensi

apa yang akan dinilai. Apa yang dinilai adalah apa yang sudah terjadi dalam

proses pembelajaran. Karena target yang akan diketahui berupa kompetensi

afektif maka guru perlu mempersiapkan alat bantu (pedoman) yang cocok untuk

mengungkap nilai, sikap, dna tindakan sebagai dimensiyang akan dinilai.

Penilaian yang kurang mendapat perhatian oleh guru sehingga potensi dan

kemampuan peserta didik tidak dapat dinilai secara optimal adalah aspek nilai,

sikap, dan tindakan.Bagaimana guru merencanakan program untuk menilai

kemampuan tersebut?

Uraian Materi

Pengembangan Instrumen Penilaian Non Tes

Sebagaimana telah dikemukakan terdahulu bahwa langkanya guru

menggunakan penilaian non tes karena tidak mudahnya menyusun instrumen atau

alat penilaian untuk mengukur aspek afektif peserta didik. Meskipun demikian,

guru profesional perlu mencoba dan mencoba secara terus menerus

mengembangkan alat penilaian non tes.Semakin sering mengembangkan alat

penilaian, maka akan semakin mahir sehingga Anda tidak akan menemui kesulitan

lagi.

Mari kita mencoba mengembangkan beberapa alat penilaian non tes secara

perlahan namun dilakukan secara terus menerus.

A. Panduan Observasi

Pada jenjang SD/MI, alat penilaian non tes dapat dikembangkan sendiri

oleh guru kelas (teacher-made)yang bersangkutan. Demikian pula, panduan

observasi dapat dikembangkan oleh guru sehingga tidak menutup kemungkinan

terjadinya bias akibat subyektifitas guru. Namun inilah ciri khas dari penilaian

afektif yang tidak mjungkin steril dari pengaruh subjektivitas guru. Ada

beberapa petunjuk untuk mengurangi kelemahan dalam penyusunan panduan

obeservasi (Zaenul, 1993: 67):

1) Rencanakan terlebih dahulu apa yang akan diamati, untuk menghindari

tertariknya pengamat pada hal lain yang menarik perhatiannya. Selain itu

juga ditetapkan tingkah laku apa yang akan diamati, kriterianya, yaitu yang

paling besar kontribusinya untuk menjelaskan hasil belajar peserta didik.

2) Agar observasi dapat dilakukan secara cermat dan kontinyu untuk

memperoleh data yang seobjektif mungkin, maka diperlukan alat perekam

data observasi yang mudah dan jelas untuk dilaksanakan.

Sub Unit 9.2

3) Harus disadari kemungkinan terjadinya kesalahan sampel. Misalnya bila

mengamati seseorang di pagi hari kemungkinan besar akan menghasilkan

informasi yang lain sama sekali bila mengamatinya di sore hari.

4) Setiap hasil observasi harus segera ditulis laporannya segera setelah

observasi dilakukan.

5) Interpretasi harus dilakukan setelah pengamat mengendapkan informasi

yang telah diperoleh melalui observasi, sehingga interpretasi tidak menjadi

terlalu subjektif.

6) Sebaiknya melibatkan orang lain selain guru sebagai pengamat dalam

melakukan pengamatan, misalnya saja orang tua murid, konselor, wali

murid, guru lain, teman sebaya dan sejenisnya. Dengan demikian orang tua

peserta didik terlibat secara langsung dalam pembelajaran.

Berikut ini dikemukakan contoh panduan observasi yang dapat

dikembangkan dan disesuaikan dengan kondisi kelas oleh guru.

PANDUAN OBSERVASI

Penilaian aktivitas diskusi

Petunjuk:

Panduan ini dapat diisi oleh guru atau observer (orang tua, konselor,

wali murid, teman sebaya pada saat di kelas ketika diskusi

berlangsung. Isikan angka-angka di bawah ini sesuai dengan kriteria

dan perilaku yang muncul.

· 5 = baik sekali

· 4 = baik

· 3 = cukup

· 2 = kurang

· 1 = kurang sekali

150

Suplemen Bahan Ajar: Penilaian Mata Pelajaran IPS

Kriteria Diskusi

1

Diskusi

2

Diskusi

3

Uraian/

deskripsi

1. SIKAP

. Kerja sama

. Semangat

2. Urunan

. Masuk akal

. Teliti

. Jelas

. Relevan

. Berdasarkan pada

urunan

sebelumnya

3. Bahasa

. Kejelasan

. Ketelitian

. Ketepatan

. Menarik

. Kewajaran

4. Kesopanan

· Menggunakan bahasa

· yang sopan dan alasan

yang tulus

· Membantu kelompok

pada arah yang

Nama peserta didik : ……………………………….

Kelas : ................................................

SD/MI : ................................................

151

Suplemen Bahan Ajar: Penilaian Mata Pelajaran IPS

Kriteria Diskusi

1

Diskusi

2

Diskusi

3

Uraian/

deskripsi

benar

· Meluruskan

penyimpangan

· Menunjukkan sikap

yang

terpuji

(Modifikasi dari Rahmat, dkk., 2009)

B. Skala Sikap

Skala sikap digunakan untuk menilai survey sikap peserta didik yang

dapat dipilih dari tiga yang paling lajim, ialah: skala Likert, skala Thurstone

atau skala Guttmann. Untuk menilai sikap dalam pembelajaran, banyak

digunakan skala sikap Likert. Dalam skala ini pernyataan afektif

menunjukkan pernyataan yang secara langsung mengungkapkan perasaan

terhadap suatu objek sikap. Sedangkan pernyataan psikomotor menunjukkan

pernyataan pilihan tingkah laku atau maksud tingkah laku yang berkenaan

dengan suatu objek sikap tertentu). Contoh skala sikap model Likert sebagai

berikut.

Contoh Skala Likert:

Bubuhkan ceklis (_) pada kolom sebelah kanan yang cocok dengan sikap

Anda!

No. Pernyataan Pilihan

1. Usaha saya dalam

kelompok

lemah sedang kuat

2. Kontribusi saya

terhadap kelompok

0% 50% 100%

3. Materi yang

dipelajari

membosankan Biasa-biasa

saja

menyenangkan

4. Tugas membaca kurang sedang banyak

5. Solusi saya

terhadap masalah

Kurang

diterima

diterima Sangat

diterima

Contoh model survey sikap dengan penyempurnaan kalimat:

1. Materi yang paling penting yang telah saya pelajari adalah

..........................

2. Saya tertarik untuk belajar lebih banyak lagi tentang

.................................

3. Seandainhya saya mampu, saya akan mengubah

......................................

Bubuhkan ceklis (_) pada kolom sebelah kanan yang cocok dengan sikap

Anda!

No. Pernyataan sedih biasa senang

1 Penceramah membuat saya

2 Pelajaran membuat saya

3 Apabila saya gtinggal di rumah,

maka orang tua saya merasa

C. Jurnal/Diari

Jurnal atau diari adalah jenis alat penilaian non tes yang dilakukan

dengan cara mencatat segala peristiwa atau kejadian tentang diri peserta didik,

khususnya selama proses pembelajaran berlangsung. Catatan ini akan sangat

bermanfaat, manakala dicatat secara tersendiri dalam Buku Harian Peserta

didik.

Contoh :

Hari Senin tanggl 20 Desember 2010, Dedi melaksanakan diskusi

delompok di kelas. Dedi tampil sebagai ketua kelompok dan sekalkigus

sebagai juru bicara/penyaji uang melaporkan hasil kerja kelompok,

hyakni kunjungan kepada tokoh masyarakat. Dalam diskusi tersebut

kelompok kami menerima lima pertanyaan dari 3 kelompok yang

bertanya. Semua pertanyaan dapat dijawab dengan baik, walaupun

ada pertanyaan yang perlu mendapat penjelasan dari guru.

Bandung,20 Desember 2010 R.Kls.IV-A,

Pukul :08.30-10.30.

D. Daftar ceklis

Daftar ceklis adalah suatu alat penilaian non tes yang digunakan secara

terstruktur untuk memperoleh informasi tentang sesuatu yang diamati. Alat ini

sangat bermanfaat untuk menilai hasil belajar ataupun proses pembelajaran

secara lebih rinci. Penggunaannya sangat sederhana, karena hanya dengan

membubuhkan tanda ceklis pada kolom yang sesuai dengan apa yang diamati.

Contoh:

No Aspek yang diamati Ceklis

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

Berpartisipasi dalam mempersiapkan bahan untuk diskusi

Memberikan pendapat dalam memecahkan masalah

Hadir tepat waktu

Memberikan komentar terhadap hasil kerja kelompok lain

Mengajukan pertanyaan ketika sedang belajar di kelas

Menyerahkan tugas tepat waktu

Membawa buku pelajaran ketika sedang belajar di kelas

Membawa alat tulis termasuk buku catatan pelajaran

Berpartisipasi dalam kegiatan sekolah

Menunjukkan rasa peduli terhadap orang lain

……

……

……

……

……

……

……

……

……

……

Nama peserta didik : ……………………………….

Kelas : ................................................

SD/MI : ................................................

E. Portofolio

Dalam konteks penilaian (assessment), portfolio dapat berarti kumpulan

keterangan yang tersusun secara sistematis yang digunakan oleh guru dan

siswa untuk memonitor pertumbuhan knowledge, skills, dan attitudes para

siswa dalam mata pelajaran tertentu.Kumpulan keterangan tersebut hendaknya

melibatkan partisipasi siswa dalam memilih bahan-bahan,kriteria seleksi,

kriteria penilaian, dan disertai bukti/keterangan tentang refleksi diri dari siswa.

Semua kumpulan karya siswa tersebut merupakan kumpulan karya hasil

kolaboratif yang bertujuan dan hasil refleksi diri selama proses pembelajaran.

Bagaimana Menilai Portfolio Kelas?

Untuk peserta didik yang berada di kelas rendah, portfolio dapat meliputi

sampel pekerjaan, catatan beragam hasil observasi yang sistematis, dan tes

seleksi. Guru dan orang tua dapat memantau kemajuan peserta didik dengan

cara memperhatikan tulisan-tulisannya, lukisan-lukisannya, buku-buku yang

dibaca oleh mereka, rekaman video, photo, rekaman suara ketika membaca,

bercerita dan sebagainya. Karya-karya yang sangat bermanfaat meliputi:

catatan anekdot, ceklis atau inventory, skala nilai, dan pertanyaan serta

keperluannya. Untuk menilai portfolio siswa, guru IPS dapat mengembangkan

model penilaian seperti di bawah ini.

Lembaran Skor Portfolio

Untuk setiap kriteria, beri skor bagian portfolio pada skala 1-5, dengan 5

skor tertinggi.Gunakanlah Lembar Nilai untuk menilai portfolio secara

keseluruhan.

1 = rendah; 2 = cukup; 3 = rata-rata; 4 = di atas rata-rata; 5= istimewa

ASPEK YANG DINILAI SKOR CATATAN

1. KELENGKAPAN

· Aspek-aspek yang disyaratkan

sebelumnya

2. KEJELASAN

· Terorganisir dengan baik

· Tertulis dengan baik

· Mudah dipahami

3. INFORMASI

· Akurat

· Cukup

· Penting

4. DUKUNGAN

· Contoh untuk hal-hal utama

· Alasan yang baik

5. GRAFIK

· Berkaitan dengan isi bagian

· Ketepatan judul

· Memberikan informasi

· Meningkatkan pengertian

6. BAGIAN DOKUMENTASI

· Cukup

· Dapat dipercaya

· Berkaitan dengan penyajian

· Selektif

SKOR TOTAL

PENILAI:________________________________TANGGAL

______________

(Sumber: CCE, 1999:25-3

F. Skala bertingkat (Rating Scale)

Skala bertingkat adalah alat penilaian non tes untuk menilai karakteristik

tertentu sebagaimana diharapkan muncul dalam diri peserta didik.Tipe skala

betingkat yang akan disajikan di bawah ini termasuk jenis yang sederhana.

Oleh karena itu tipe ini memungkinkan dapat dibuat dan dipergunakan oleh

guru.

Untuk mengembangkan alat penilaian ini ada sejumlah kaidah yang harus

diperhatikan dan dicermati oleh pengembang alat evaluasi. Kaidah-kaidah

tersebut sebagaimana dinyatakan oleh Zaenul (1993:76) adalah sebagai berikut:

1) Jumlah pertanyaan atau pernyataan haruslah terbatas, tetapi tetap dapat

memberi gambaran yang utuh dari keseluruhan hal yang diukur.

2) Angka untuk perangkat rating scale haruslah mempunyai arti yang sama.

3) Jumlah kategori angka yang digunakan supaya diusahakan cukup bermakna,

tetapi tidak terlalu renik sehingga tidak jelas lagi perbedaan arti satu angka

dengan angka lainnya. Sebagai patokan jangan lebih dari 7 kategori.

4) Setiap pernyataan atau pertanyaan hendaknya hanya mengukur satu

karakteristik atau satu komponen.

5) Bila digunakan untuk mengukur suatu prosedur, sebaiknya pertanyaan atau

pernyataan disusun secara urut berdasarkan urutan pelaksanaan prosedur.

6) Bila digunakan untuk mengukur suatu hasil, sebaiknya pertanyaan atau

pernyataan disusun secara urut dari yang termudah ke yang lebih sukar.

Contoh:

(Modifikasi dari Rahmat, dkk., 2009)

Latihan

Selama proses pembelajaran, guru akan menilai kompetensi peserta didik,

bukan hanhya aspek pengetahuan (kognitif) melainkan juga aspek afektif

dan perilaku. Guru menerapkan metode pembelajaran bermain peran (role

playing). Jelaskan penilaian non tes bentuk apakah yang tepat dan

bagaimana membuat alat penilaiannya?

NUMERICAL RATING SCALE

SD/MI : .........................................

Kelas : .........................................

Nama Siswa : ..........................................

Tanggal : .........................................

Waktu : ..........................

Tujuan : Untuk mengetahui tingkat ketaatan siswa

Petunjuk:

Nyatakanlah tingkatan dari setiap pernyataan berikut ini dengan memberi tanda

ceklis (V) di bawah angka- angka yang ada di depan pernyataan.

§ 1 = tidak memuaskan

§ 2 = dibawah rata-rata

§ 3 = rata-rata

§ 4 = di atas rata-rata

§ 5 = sempurna

No.

Aspek yang diukur

1

2

3

4

5

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

Cara berjalan

Ketepatan datang ke sekolah

Keseriusan mengikuti pelajaran

Kelengkapan atribut sekolah

Keseriusan mengerjakan PR

Melaksanakan piket di kelas

Membersihkan papan tulis

Ketepatan mengerjakan tugas

Menolong orang lain

Memungut sampah berserakan

Panduan Jawaban

Proses pembelajaran sudah jelas bahwa peserta didik akan banyak terliobat

dalam aktivitas, terutama dalam memerankan tokoh atau peran tertentu.

Perlu diperhatikan pula, kompetensi yang ingin dicapai. Karena yang ingin

dinilai dimensi afektif dan perilaku maka alat penilaian observasi dapat

digunakan. Oleh karena itu, kembangkanlah alat penilaian untuk menilai

sikap dan perilaku. Panduan observasi di atas dapat dimanfaatkan dengan

cara memodifikasi/disesuaikan dengan karakteristik kompetensi yang ingin

dicapai.

Rangkuman

Panilaian pembelajaran baik proses maupun hasil belajar selayaknya

memenuhi bersifat komprehensif mencakup seluruh potensi dna

kemampuan peserta didik disamping perlu memenuhi rasa keadilan bagi

peserta didik. Oleh karena itu, kemampuan guru dalam menilai selayaknya

menggunakan teknik tes dan non-tes. Penilaian non tes yang kurang

mendapat perhatian yang memadai perlu diupayakan oleh guru IPS. Agar

guru memiliki kemampuan yang memadai dalam melaksanakan penilaian

non tes, maka guru perlu mengenal jenis penilaian non tes berlatih dan

berupaya mengembangkan alat penailaian tersebut.

Ada sejumlah teknik penilaian non-tes dalam pembelajaran IPS atau

penilaian domain afektif meliputi : survey sikap, penyempurnaan kalimat,

ceklis pengamatan, kegiatan (projects), portofolio, jurnal/diari, daftar

ceklis, skala pilihan, catatan pribadi, dan studi kasus.

Formatif

Pilihlah salah satu kemungkinan jawaban pada setiap butir pertanyaan yang

menurut Anda paling tepat.

1. Laporan hasil belajar untuk sekolah hendaknya dibuat oleh guru selengkap

mungkin menyangkut peserta didik. Aspek yang paling umum dari

laporan hasil belajar peserta didik untuk sekolah (kepala sekolah) adalah

...

a. kompetensi peserta didik

b. jumlah peserta didik

c. sikap peserta didik

d. minat dan bakat peserta didik

2. Laporan hasil belajar tentang peserta didik yang paling umum dan singkat

adalah ditujukan untuk ...

a. guru

b. kepala sekolah

c. orang tua

d. masyarakat

3. Informasi tentang aspek afektif peserta didik dapat diketahui melalui …

a. ujian tertulis

b. kuesioner

c. wawancara

d. angket

4. Penilaian proses dan hasil belajar peserta didik hendaknya bersifat ….

a. Komprehensif dan adil

b. kompleksitas

c. sarana pendukung

d. esensial

5. Penilaian untuk ranah afektif tidak dalam bentuk angka melainkan berupa

deskriptif atau penafsiran kualitatif. Oleh karena itu penilaian untuk ranah

afektif dinyatakan sebagai penilaian ...

a. informasi esensial

b. informasi tambahan

c. penafsiran kuantitatif

d. penentu prestasi

GLOSARIUM

Penilaian non tes : Penilaian untuk mengungkap aspek non

kuantitatif seperti perasaan, sikap, emosi,

keyakinan, dan lainnya yang bersifat afektif.

Dimensi : ukuran; takaran; matra.

Perspektif : sudut pandang; harapan baik untuk masa depan.

DAFTAR PUSTAKA

Cleaf, David W. Van. (1991). Action in Elementary Social Studies. Boston: Allyn

Bacon.

CCE, (1996), We The People ... Project Citizen: Teacher’s Guide, Calabasas,

California.

Rahmat, Sapriya, Dadang Sundawa, dkk. (2009). Pembelajaran Pendidikan

Kewarganegaraan. Bandung: Lab PKn UPI.

Welton, David A & Mallan, John T. (1988) Children and Their World, Strategies

for Teaching Social Studies (3rd ed.). Boston, Dallas: Houghton Mifflin

Company.

162

Suplemen Bahan Ajar: Penilaian Mata Pelajaran IPSv

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar